Selasa, 11 November 2014

Reading Course V

F. Manfaat Belajar Filsafat Ilmu Pengetahuan

       Dengan mempelajari filsafat pengetahuan dan ilmu pengetahuan, khususnya cara kerja ilmu pengetahuan. Seseorang akan memperoleh manfaat yang besar sekali bagi kerjanya kelak di kemudian hari sebagai polisi, ahli hukum, wartawan, teknisi, ataupun sebagai manajer karena pekerjaan-pekerjaan ini - dan semua pekerjaan lainnya – pada dasarnya berkaitan dengan upaya memecahkan masalah tertentu. Inilah yang dipelajari dalam kaitan dengan filsafat ilmu pengetahuan. Yang terutama di pelajari dalam masing-masing ilmu adalah kemampuan teknis dalam masing-masing ilmu untuk memecahkan persoalan dari sudut ilmu masing-masing, sedangkan filsafat ilmu pengetahuan lebih melatih mahasiswa untuk mampu melihat masalah, mampu melihat sebabnya, apa akibatnya, dan apa solusinya.
          Ilmu pengetahuan tidak hanya bersifat puritan-elitis, melainkan juga pragmatis. Dalam pengertian, ilmu pengetahuan tidak hanya berhenti sekedar memuaskan rasa ingin tahu manusia. Melainkan juga bermaksud membantu manusia untuk memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi manusia dalam hidupnya.
G. Ruang Lingkup Dan Kedudukan Filsafat Ilmu

 Ruang lingkup dalam bidang filsafat mencakup dua pokok bahasan yaitu, sifat ilmu pengetahuan dan  cara-cara mengusahakan pengetahuan ilmiah. Filsafat ilmu dikolompokan menjadi dua, yaitu :
1.   Filsafat ilmu umum
Kelompok ini mencakup kajian tentang persoalan kesatuan, keseragaman, serta hubungan diantara segenap ilmu.
2.   Filsafat ilmu khusus
Kelompok ini membahas tentang kategori serta metode yang digunakan pada ilmu tertentu.
Filsafat ilmu dapat pula dikelompokan berdasarkan model pendekatan, yaitu :
1.      Filsafat ilmu terapan
Yaitu filsafat ilmu yang mengkaji pokok pikiran yang melatarbelakangi pengetahuan normatif ilmu.
2.      Filsafat ilmu murni
Yaitu bentuk kajian filsafat yang menelaah  secara kritis dan eksploratif terhadap materi kefilsafatan dan membuka kemungkinan berkembangnya ilmu baru.

H. Sejarah Perkembangan Ilmu Pengetahuan

        Pemikiran filsafati banyak dipengaruhi oleh lingkungan. Namun pada dasarnya filsafat baik di Barat, India, dan Cina muncul dari yang sifatnya religius. Tema yang pokok di filsafat Cina adalah masalah perikemanusiaan (jen). Pembagian secara periodisasi filsafat India adalah periode Weda, Wiracarita, Sutra-sutra, dan Skolastik. Dalam filsafat India yang penting adalah bagaimana manusia bisa berteman dengan dunia bukan untuk menguasai dunia. Adapun pada Filsafat Islam hanya ada dua periode, yaitu periode Mutakallimin dan periode filsafat Islam. Untuk sejarah perkembangan ilmu pengetahuan di sini pembahasan mengacu ke pemikiran filsafat di Barat.
Periode filsafat Yunani merupakan periode sangat penting dalam sejarah poradaban manusia karena pada waktu itu terjadi perubahan pola pikir manusia darimite-mite menjadi yang lebih rasional. Pola pikir mite-mite adalah pola pikir masyarakat yang sangat mengandalkan mitos untuk menjelaskari fenomena alam,
Jadi, perkembangan ilmu pengetahuan seperti sekarang ini tidak langsung secara mendadak, melainkan terjadi secara bertahap, evolutif. untuk memahami sejarah perkembangan ilmu mau tidak mau harus melalui pembagian atau klasifikasi secara periodik; karena setiap periode menampilkan ciri khas tertentu dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Perkembangan pemikiran secara teoritis senantiasa mengacu kepada peradaban Yunani. Periodesasi perkembangan ilmu di sini dimulai dari peradaban Yunani dan diakhiri pada kontemporer.(Drs.Surajiyo ;hal 80)

I.                Landasan Penelaahan Ilmu

Landasan pokok dalam penelaahan ilmu bertumpu pada tiga cabang filsafat, yaitu ontologi, epistimologi dan aksiologi. Landasan ontologi berkaitan dengan pemahaman seseorang tentang kenyataan, landasan epistemologi memberikan pemahaman tentang sumber dan sarana pengetahuan manusia sedangkan landasan aksiologi yang memberikan suatu pemahaman tentang nilai hubungan kualitas obyek dengan subyek (ilmuan) .
1. Landasan Ontologi
Ontologi adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang yang ada. Dalam kaitannya dengan ilmu, landasan ontologi mempertanyakan tentang objek apa yang ditelaah ilmu, bagaimana wujud hakiki dari objek tersebut .
2. Landasan Epistimologi
Epistimologi adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang asal muasal, sumber, metode, struktur dan validitas atau kebenaran pengetahuan.
3. Landasan Aksiologi
Aksiologi adalah cabang filsafat yang mempelajari tentang nilai secara umum. Sebagai landasan ilmu.

J.  Sarana Berfikir Ilmiah Dalam Filsafat
 Sarana ilmiah pada dasarnya merupakan alat membantu kegiatan ilmiah dalam berbagai langkah yang harus ditempuh. Tujuan mempelajari sarana ilmiah adalah untuk memungkinkan kita melakukan penelaahan ilmiah secara baik, sedangkan tujuan mempelajari ilmu dimaksudkan untuk mendapatkan pengehahuan yang memungkinkan untuk bisa memecahkan masalah sehari-hari. Ditinjau dari pola berfikirnya, maka maka ilmu merupakan gabungan antara pola berfikir deduktif dan berfikir induktif, untuk itu maka penalaran ilmiah menyadarkan diri kepada proses logika deduktif dan logika induktif .Penalaran ilmiah mengharuskan kita menguasai metode penelitian ilmiah yang pada hakekatnya merupakan pengumpulan fakta untuk mendukung atau menolak hipotesis yang diajukan. Kemampuan berfikir ilmiah yang baik harus didukung oleh penguasaan sarana berfikir ini dengan baik pula. Salah satu langkah kearah penguasaan itu adalah mengetahui dengan benar peranan masing-masing sarana berfikir tersebut dalam keseluruhan berfikir ilmiah tersebut. Untuk dapat melakukan kegiatan ilmiah dengan baik, maka diperlukan sarana yang berupa bahasa, logika, matematika dan statistik.
Pengertian Sarana Berfikir Ilmiah Menurut Para Ahli :
1.    Menurut Salam (1997:139): Berfikir ilmiah adalah proses atau aktivitas manusia untuk menemukan/mendapatkan ilmu. Berfikir ilmiah adalah proses berpikir untuk sampai pada suatu kesimpulan yang berupa pengetahuan.
2.    Menurut Jujun S.Suriasumantri. Berpikir merupakan kegiatan akal untuk memperoleh pengetahuan yang benar. Berpikir ilmiah adalah kegiatan akal yang menggabungkan induksi dan deduksi.

3.    Menurut Kartono (1996, dalam Khodijah 2006:118). Berpikir ilmiah, yaitu berpikir dalam hubungan yang luas dengan pengertian yang lebih komplek disertai pembuktian-pembuktian.

Sabtu, 18 Oktober 2014

Reading Course IV

2.1.   Pengertian Filsafat
Pengertian filsafat dalam sejarah perkembangan pemikiran kefilsafatan, antara satu ahli filsafat dengan ahli filsafat lainnya selalu berbeda, dan hampir sama banyaknya dengan ahli filsafat itu sendiri. Secara etimologi yang dalam bahasa arab dikenal dengan istilah falsafah dan dalam bahasa inggris dikenal dengan istilah philosophy sedangkan dalam bahasa Yunani filosofi disebut dengan philosophia, yang terdiri atas dua kata: philos (cinta) atau philia (persahabatan, tertarik kepada), dan shopia  (hikmah, kebijaksanaan, pengetahuan, keterampilan, pengalaman praktis, inteligensi). Jadi secara etimologi, filsafat berarti cinta kebijaksanaan atau kebenaran. Kata filsafat pertama kali digunakan oleh Pythagoras (582-496 SM).
Plato mendefinisikan filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran asli (hakiki) dan murni., dan kata Aristoteles filsafat adalah ilmu pengetahuan yang senantiasa berupaya mencari prinsip-prinsip dan penyebab-penyeban dari realita yang ada.
Secara umum filsafat berarti upaya manusia untuk memahami sesuatu secara kritis. Filsafat bukanlah suatu produk, melainkan proses, proses yang nantinya akan menentukan sesuatu itu dapat diterima atau tidak. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa filsafat adalah suatu studi atau cara berfikir yang dilakukan secara reflektif atau mendalam untuk menyelidiki fenomena-fenomena yang terjadi dalam kehidupan dengan menggunakan alasan yang diperoleh dari pemikiran kritis yang penuh dengan kehati-hatian. Filsafat didalami tidak dengan melakukan eksperimen-eksperimen, tetapi dengan menggunakan pemikiran yang mendalam untuk menggungkapkan masalah secara persis, mencari solusi dengan memberi argumen dan alasan yang tepat.

Aristoteles membagi filsafat kedalam tiga bidang studi yaitu:
1) Filsafat spekulatif atau teoretis, yakni suatu cabang filsafat yang bersifat obyektif.
2) Filsafat Praktis, yakni filsafat yang memberi petunjuk dan pedoman bagi tingkah laku manusia yang baik dan sebagaimana mestinya, termasuk di dalamnya adalah etika dan politik. Sasaran terpenting bagi filsafat praktis ini adalah membentuk sikap dan perilaku yang akan memampukan manusia untuk bertindak dalam terang pengetahuan itu.
 3) Filsafat Produktif, yaitu pengetahuan atau filsafat yang membimbing dan menuntun manusia menjadi produktif lewat suatu keterampilan khusus. Adapun sasaran utama yang hendak dicapai lewat filsafat ini adalah agar manusia sanggup menghasilkan sesuatu.

Surajiyo (2005) membagi cabang filsafat secara garis besar kedalam dua kelompok, yakni:
a.      Filsafat sistematis, bertujuan dalam pembentukan dan pemberian landasan pemikiran filsafat. Didalmnya meliputi logika, metodologi, filsafat ilmu, etika, estetika, metafisika, filsafat ketuhanan, filsafat manusia, dan kelompok filsafat khusus seperti filsafat sejarah, filsafat hukum, filsafat komunikasi dan lain-lain.
b.     Sejarah filsafat, bertujuan untuk menjelaskan bagaiman filsafat itu ada.
2.2.   Ilmu Pengetahuan Sebagai Pengantar Ilmu Filsafat
Jika kita tinjau hubungan antara filsafat dan ilmu pengetahuan mengalami perkembangan yang sangat mencolok.pada permulaan sejarah filsafat yunani “philosophia” meliputi hampir seluruh pemikiran teoritis,tetapi dalam hubungan ilmu pengetahuan di kemudian hari, ternyata juga kita melihat adanya kecendrungan yang lain,filsafat yunani kuno yang tadinya merupakan suatu kesatuan kemudian menjadi  terpecah pecah ( Bertens,1987 Nochelmans, 1982).
Lebih lanjut nochelmans 1982 mengemukakan bahwa dengan munculnya ilmu pengetahuan alam pada abad ke 17maka mulailah terjadi perpisahan antara filsafat dan ilmu pengetahuan.dengan demiokian dapatlah di kemukakan bahwa sebelum abad ke 17 ilmu pengetahuan sangat identik dengan filsafat.pendapat tersebut juga sejalan dengan pemikiran Van Peursen (1985),yang mengemukakan bahwa dahulu ilmu merupakan bagian dari filsafat sehingga defenisi tentang ilmu bergantung pada sistem filsafat yang di anut.
Dengan demikian perkembangan ilmu pengetahuan semakin lama semakin maju dengan munculnya ilmu ilmu baru seperti ilmu filsafat yang pada akhirnya memunculkan pula ilmu-ilmu baru ke arah ilmu pengetahuan yang lebih khusus lagi. Oleh karena itu tepatlah apa yang di kemukakan oleh Van Peursen bahwa ilmu pengetahuan dapat di lihat sebagai suatu sistem yang saling jalin menjalin dan taat atas asas (konsisten) dari ungkapan ungkapan yang bersifat benar ridaknya yang dapat di tentukan.
2.3.   Fenomenologi Pengetahuan Dan Ilmu Pengetahuan
Terbentuknya pengetahuan manusia karena adanya subjek dan objek. Keduanya merupakan suatu kesatuan asasi bagi terwujudnya pengetahuan. Dalam sejarah filsafat pengetahuan dan ilmu pengetahuan terjadi perdebatan tentang mana yang lebih pokok dan yang lebih dulu. Subjek manusia dengan akal budinya, ataukah objek kenyataan yang diamati dan dialami di alam semesta ini. Muncul persoalan pengetahuan, apakah pengetahuan manusia berasal dari akal budi manusia atau pengalaman manusia akan realitas objektif di alam semesta ini, bersifat psikologis-subjektif atau objektif-universal, berkaitan dengan struktur kesadaran subjektif atau kenyataan real yang melekat pada objek dan lepas dari kesadaran subjektif tiap orang. Supaya terjadi pengetahuan subjek harus terarah kepada objek, dan sebaliknya objek harus terbuka dan terarah pada subjek.
Pengetahuan adalalah peristiwa yang terjadi dalam diri manusia. Manusia sebagai subjek pengetahuan memegang peranan penting. Keterarahan manusia terhadap objek merupakan faktor yang sangat menentukan bagi munculnya pengetahuan manusia. Pada awalnya melalui unsur jasmaniah, manusia memperoleh pengetahuan yang bersifat kongkret. Selanjutnya dengan bantuan akal budinya, pengetahuan tersebut dapat ke tingkat yang lebih tinggi, yaitu abstrak dan universal. Pengetahuan yang bersifat abstrak umum dan universal tersebut melalui bahasa dapat dikomunikasikan secara universal, dibakukan, dan diwariskan kemudian diterapkan menjadi pengetahuan baru yang lebih sempurna. Jadi ilmu pengetahuan muncul karena apa yang sudah diketahui secara spontan dan langsung, disusun dan diatur secara sistematis dengan menggunakan metode tertentu yang bersifat baku.
Secara metodologis, dalam gejala terbentuknya pengetahuan manusia, dapat dibedakan antara dua kutub yaitu kutub si pengenal dan kutub yang dikenal, atau antara subjek dan objek. Keduanya tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Supaya ada pengetahuan, keduanya harus ada. Yang satu tidak pernah ada tanpa yang lainnya. Keduanya merupakan suatu kesatuan asasi bagi terwujudnya pengetahuan manusia. Hubungan yang demikian ini menimbulkan perdebatan sepanjang sejarah filsafat pengetahuan dan ilmu pengetahuan tentang mana yang lebih pokok. Bagaimanapun juga supaya ada pengetahuan, subjek harus terarah pada objek, dan sebaliknya objek harus terbuka dan terararah kepada subjek. Saling terbuka antara subjek dan objek, bertujuan untuk saling mengenal dan mengetahui sebagaimana adanya satu sama lain.
Pengetahuan adalah peristiwa yang terjadi dalam diri manusia. Pengetahuan itu hanya mungkin terwujud kalau manusia sendiri adalah bagian dari objek, dari realiras di dalam semesta ini.
Pengetahuan manusia tidak hanya berkaitan dengan objek konkret khusus yang dikenalnya melalui pengamatan indranya, melainkan juga melalui itu dimungkinkan untuk sampai pada pengetahuan abstrak tentang berbagai objek lain yang secara teoristis dapat dijangkau oleh akal budi manusia, dan karena itu berlaku umum bagi objek mana saja yang bisa dijangkau akal budi manusia pada tempat dan waktu mana pun.
Ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang muncul dari pengetahuan manusia yang pada dasarnya sudah ada, dan bersifat spontan kemudian disusun dan diatur secarra sistematis dengan menggunakan metode tertentu.
Dalam ilmu pengetahuan selalu ada tradisi, prosedur yang lazim,dan ada cara kerja baku yang tak dapat disangkal. Ilmu pengetahuan benar-benar masuk akal,yang dapat diterima atau dikritik oleh semua orang yang dapat menggunakan akalnya karena pada tingkat ini semua orang tentunya ingin menuntut pembuktian dan pertanggungjawaban atas kebenaran ilmu tersebut.
Ilmu pengetahuan mempunyari 3 ciri,yaitu :
·             Rasional (dapat dimengerti,harus logis,terbuka bagi kritik)
·             Metodis (memakai metode)
·             Sistematis ( dapat memberikan suatu uraian yang menyeluruh)

2.4.   Filsafat Pengetahuan dan ilmu pengetahuan
1.     Filsafat pengetahuan
Filsafat pengetahuan berkaitan dengan upaya mengkaji segala sesuatu yang berkaitan dengan pengetahuan manusia pada umumnya, terutama menyangkut masalah pengetahuan dan sumber pengetahuan manusia, misalnya tentang:
·              Bagaimana manusia bisa tahu?
·              Apakah manusia bisa sampai pada pengetahuan yang bersifat pasti?
·              Apakah pengetahuan yang pasti itu mungkin?
·              Apa artinya mengetahui sesuatu?
·              Bagaimana manusia bisa tahu bahwa ia tahu?
·              Darimana asal dan sumber pengetahuan manusia itu?
·              Apakah pengetahuan sama dengan keyakinan?
·              Di mana letak perbedaannya?
2.Filsafat Ilmu Pengetahuan 
              
Filsafat ilmu pengetahuan adalah Cabang filsafat yang mempersoalkan dan mengkaji segala persoalan yang berkaitan dengan Ilmu pengetahuan. Tugas filsafat ilmu pengetahuan adalah membuka pikiran kita untuk mempelajari proses yang logis dan imajinatif. Dalam cara kerja ilmu pengetahuan juga membicarakan tentang hubungan antara ilmu pengetahuan dan masyarakat.
Manfaat dari mempelajari filsafat ilmu pengetahuan bagi mahasiswa , terbagi atas 3, yaitu di antaranya :
1. Sebagai mata kuliah filsafat, mahasiswa di tuntut semakin kritis dalam sikap ilmiah nya terhadap berbagai macam teori dan pengetahuan ilmiah yang di peroleh baik di ruang kuliah maupun berbagai sumber yang di dapat. Di tuntut untuk tidak mudah percaya, tidak menerima begitu saja teori, pendapat, dan pandangan. Disini mahasiswa diajak untuk menjadi orang yang filsuf, yang selalu meragukan dan mempertanyakan apa saja.
2. Dengan menggunakan mata kuliah ini mahasiswa di harapkan mengembangkan kemampuan . Mahasiswa di ajak secara kritis melihat segala sesuatu dalam hidup sebagai sebuah masalah, sebuah teka teki, maupun juga sebuah pertanyaan. Pada tingkat kedua, mahasiswa terdorong berupaya mencari secara ilmiah teoretis yang menjadi sebab masalah tersebut dan apa yang menjadi penyebabnya.
3. Membantu kerja mahasiswa di kemudian hari. Dengan mempelajari filsaat ilmu pengetahuan mahasiswa akan di permudah cara kerjanya kelak, sebagai tenaga kesehatan, polisi, dan bidang bidang lainnya. Dalam hal ini filsafat ilmu pengetahuan dibutuhkan demi memecahkan persoalan secara rasional dan tuntas. Karena hal pertama yang di lihat pada seseorang yang profesional adalah kemampuannya dalam melihat masalah : dimana letaknya, seberapa besar masalah tersebut, apa dampaknya, dan bagaimana mengatasinya.
HUBUNGAN FILSAFAT DAN ILMU PENGETAHUAN
Apakah hubungan antara filsafat dengan ilmu pengetahuan? Oleh Louis Kattsoff dikatakan: Bahasa yang pakai dalam filsafat dan ilmu pengetahuan dalam beberapa hal saling melengkapi. Hanya saja bahasa yang dipakai dalam filsafat mencoba untuk berbicara mengenai ilmu pengetahuan, dan bukannya di dalam ilmu pengetahuan. Namun, apa yang harus dikatakan oleh seorang ilmuwan mungkin penting pula bagi seorang filsuf. Pada bagian lain dikatakan: Filsafat dalam usahanya mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan pokok yang kita ajukan harus memperhatikan hasil-hasil ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan dalam usahanya menemukan rahasia alam kodrat haruslah mengetahui anggapan kefilsafatan mengenai alam kodrat tersebut.
Filsafat mempersoalkan istilah-istilah terpokok dari ilmu pengetahuan dengan suatu cara yang berada di luar tujuan dan metode ilmu pengetahuan. Dalam hubungan ini, Harold H. Titus menerangkan: Ilmu pengetahuan mengisi filsafat dengan sejumlah besar materi yang faktual dan deskriptif, yang sangat perlu dalam pembinaan suatu filsafat. Para filsuf terlatih di dalam metode ilmiah, dan sering pula menuntut minat khusus dalam beberapa ilmu sebagai berikut:
1) Historis, mula-mula filsafat identik dengan ilmu pengetahuan, sebagaimana juga filsuf identik dengan ilmuwan.
2) Objek material ilmu adalah alam dan manusia. Sedangkan objek material filsafat adalah alam, manusia dan ketuhanan.
PERBEDAAN FILSAFAT DENGAN ILMU LAIN.
1) Ilmu Filsafat menyelidiki, membahas, serta memikirkan seluruh alam kenyataan, dan menyelidiki bagaimana hubungan kenyataan satu sama lain. Jadi ia memandang satu kesatuan yang belum dipecah-pecah serta pembahasanya secara kesuluruhan. Sedangkan ilmu-ilmu lain menyelidiki hanya sebagian saja dari alam ini, misalnya ilmu hayat membicarakan tentang hewan, tumbuh-tumbuhan dan manusia; ilmu bumi membicarakan tentang kota, sungai, hasil bumi dan sebagainya.
2) Filsafat tidak saja menyelidiki tentang sebab-akibat, tetapi menyelidiki hakikatnya sekaligus. Sedangkan ilmu vak membahas tentang sebab dan akibat suatu peristiwa.
3) Dalam pembahasannya filsafat menjawab apa ia sebenarnya, dari mana asalnya, dan hendak ke mana perginya. Sedangkan ilmu vak  harus menjawab pertanyaan bagaimana dan apa sebabnya. Sebagian orang menganggap bahwa filsafat merupakan ibu dari ilmu-ilmu vak. Alasannya ialah bahwa ilmu vak sering menghadapi kesulitan dalam menentukan batas-batas lingkungannya masing-masing. Misalnya batas antara ilmu alam dengan ilmu hayat, antara sosiologi dengan antropologi dan ilmu ilmu lainnya. Ilmu-ilmu itu dengan sendirinya sukar menentukan batas-batas masing-masing. Suatu instansi yang lebih tinggi, yaitu ilmu filsafat, itulah yang mengatur dan menyelesaikan hubungan dan perbedaan batas-batas antara ilmu-ilmu vak tersebut.
Demikian filsafat mempunyai metode dan sistem sendiri dalam usahanya untuk mencari hakikat dari segala sesuatu, dan yang dicari ialah sebab-sebab yang terdalam. Ilmu-ilmu pengetahuan dirinci menurut lapangan atau objek dan sudut pandangan. Objek dan sudut pandangan filsafat disebut juga dalam definisinya, yaitu "segala sesuatu". Lapangan filsafat sangat jelas; ia meliputi segala apa yang ada. Pertanyaan-pertanyaan kita itu mengenai kesemuanya yang ada, tak ada yang dikecualikan. Hal-hal yang tidak lumrah pun (seperti jiwa manusia, kebaikan, kebenaran)  juga dipersoalkan.
filsafat dapat merumuskan hukum-hukum yang berlaku secara umum bagi setiap orang, terserah agama mana yang dianutnya. Akan tetapi, ini pun kelemahan filsafat: jika hanya filsafat saja yang cukup dipakai sebagai pegangan hidup, pandangan hidup, maka ini tidak cukup, sebab banyak pertanyaan yang tidak dapat dijawab dengan 100% memuaskan oleh filsafat, sedangkan filsafat sendiri dalam usahanya mencari hakikat dari seluruh kenyataan menunjuk kepada Tuhan sebagai sumber terakhir dan sebab pertama. (Jadi, sebetulnya filsafat dan agama tidak bertentangan, tetapi saling melengkapi).
2.5. FOKUS FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN     
        Ilmu pengetahuan merupakan karya yang logis dan imajinatif. Tanpa imajinasi dan logika dari seseorang, sesuatu gagasan besar tentang heliosentrisme tidak akan muncul. Begitu juga halnya jika kita berbicara tentang ilmuan-ilmuan lain. Metode-metode ilmu pengetahuan adalah metode-metode yang logis karena ilmu pengetahuan mempraktekan logika. Namun selain logika temuan-temuan dalam ilmu pengetahuan dimungkinkan oleh  budi manusia yang terbuka pada realitis. Keterbukaan budi manusia pada realitas itu kita sebut imajinasi. Maka logika dan imajinasi merupakan dua dimensi penting dari seluruh cara kerja ilmu pengetahuan.

         Tak pernah ada imajinasi tanpa logika dalam ilmu pengetahuan. Keduanya akan berjalan bersamaan. Namun pendekatan pertama tidaklah cukup. Ilmu pengetahuan telah berkembang sebagai bagian dari hidup kita sebagai manusia dalam masyarakat. Dengan alasan itu, filsafat ilmu pengetahuan perlu mengarahkan diri selain kepada pembicaraan tentang masalah ilmu pengetahuan,  juga harus berbicara tentang hubungan antara ilmu pengetahuan dan masyarakat. 

Minggu, 28 September 2014

Reading Course III

Konsep Dasar Etika Umum

H.      Hati Nurani
Hati Nurani memberikan penghayatan tentang baik atau buruk berhubungan dengan tingkah laku nyata kita. Hati nurani bisa merupakan penilaian terhadap perbuatan yang telah berlangsung dimasa lampau (retrospektif). Hati nurani juga bisa merupakan penilaian perbuatan yang sedang dilaksanakan saat ini atau penilaian terhadap perbuatan kita di masa yang akan datang (prospektif).

I.               Shame Culture dan Guilt Culture
Dalam antropologi budaya pernah dibedakan antara dua macam kebudayaan: shame culture dan guilt culture, kebudayaan mali dan kebuudayaan kebersalahan. Shame culture seluruhnya ditandai oleh rasa malu dan disitu tidak dikenal rasa bersalah. Sedangkan dalam guilt culture terdapat rasa bersalah. Menurut pandangan ini, shame culture adalah kebudayaan dimana pengertian seperti “hormat”, “reutasi”, “nama baik”, “status”, “prestise”, “pamor”, “pesona”, dan “gengsi” sangat ditekankan.Sebaliknya guilt culture adalah kebudayaan dimana pengertiannya seperti “dosa” (sin), “kebersalahan”, (guilt), dan sebagainya sangat dipentingkan. Sekalipun suatu kejahatan tidak akan pernah diketahui oleh orang lain, namun sipelaku merasa bersalah juga.

Mereka menjelaskan lagi bahwa shame culture bersifat statis, ketinggalan di bidang ekonomi, tidak memiliki norma-norma moral yang absolut, dan ditandai oleh “psikolog massa”. Sebaliknya, guilt culture khususnya bila mana rasa bersalah dihayati secara individual sanggup untuk mengadakan perubahan progresif (termasuk fenomena seperti industrialisasi), memiliki norma norma moral yang absolut, dan memperhatikan kesejahteraan serta martabat individu. Dalam hal ini mereka menunjukan  kepada pendapat sosiolog besar, Max Weber (1864-1920) bahwa, “etika protestan” (dalam arti, nilai-nilai khusus yang menurut dia menandai agama protestan, seperti misalnya: hidup sederhana, menghemat, bekerja keras dan sebagainya).

Antropologi ternama, Clifford Geertz, umpamanya, menganggap paham-paham shame and guilt terlalu dekat satu sama lain untuk dapat dibedakan dengan jelas. Milton singer, antropolog dari Universitas Chicago, telah mengemukakan kritik yang teliti dan seimbang. Antara lain ia membantah bahwa  untuk rasa malu sanksinya selalu datang dari luar.

Kesimpulan antropologi budaya itu mempunyai relevansi juga, karena hal itu menunjukan bahwa hati nurani memainkan peranan dalam hampir semua kebudayaan. Tapi bila tidak ada same culture dan guilt culture dalam bentuk murni, dalam arti semata mate shame culture atau semata mata guilt culture, maka tidak ada keberatan untuk mengakui bahwa suatau kebudayaan lebih terarah kepada shame culture dan kebudayaan lain lebih terarah pada guilt culture. Dan dalam hubungan ini bisa diakui juga bahwa hati nurani memainkan peranan lebih besar dalam suatu kebudayaan dari pada dalam kebuyaan lain.

J.       Kebebasan dan Tanggung Jawab
Terdapat hubungan timbal balik antara kebebasan dan tanggung jawab, sehingga pengertian manusia bebas dengan sendirinya menerima juga bahwa manusia itu bertanggung jawab.
Terdapat hubungan timbal balik antara kebebasan dan tanggung jawab.
Batas-batas kebebasan meliputi:

a.       Faktor internal.
b.      Lingkungar.
c.       Kebebasan orang lain.
d.      Generasi penerus yang akan datang.

K.      Nilai dan Norma
Nilai adalah :
Nilai merupakan sesuatu yang baik, menarik, menyenangkan, disukai dan diinginkan manusia, dengan kata lain memiliki konotasi yang positif.

1.      Sifat hal yang penting, berguna bagi kemanusiaan
2.      Sesuatu yang paling dibanggakan
3.      Sesuatu yang ingin dicapai
4.      Sesuatu yang dikagumi
5.      Kualitas atau fakta

Norma adalah :
Norma berarti kaidah atau aturan yang dipakai sebagai tolok ukur  menilai  sesuatu.

1.      Ukuran
2.      Suatu aturan
3.      Pedoman yang mengatur tingkah laku masyarakat
4.      Standar pertimbangan

Nilai merupakan sesuatu yang baik, sesuatu yang menarik, sesuatu yang dicari, sesuatu yang menyenangkan, sesuatu yang disukai,sesuatu yang diinginkan. Menurut filsuf Jerman Hang Jonas nilai adalah the addressof a yes, sesuatu yang ditunjukkan dengan kata ya kita. Sesuatu yang kita iakan. Nilai mempunyai konotasi yang positif.

 Nilai mempunyai tiga ciri:
a.       Berkaitan dengan subyek.
b.      Tampil dalam sutu niali yang praktis karena subyek ingin membuat sesuatu.
c.       Nilai menyangkut pada sifat yang ditambah oleh subyek pada sifat yang dimiliki obyek.

Norma berasal dari bahsa Latin Norma, artinya aturan atau kaidah yang dipakai sebagai tolok ukur menilai sesuatu.

Norma umum meliputi tiga hal:
a.      Norma kesopanan atau etiket
b.      Norma hukum
c.      Norma moral, adalah norma yang tertinggi dan norma moral tidak dapat dilampaui oleh   
        norma yang lain tetapi menilai norma-norma yang lain.
   Sumber dari nilai dan norma adalah agama, kebudayaan, nasionalisme, dan lain-lain.


L.       Hak dan Kewajiban
Hak  merupakan pengakuan yang dibuat oleh orang atau sekelompok orang terhadap orang atau sekelompok  orang lain. Setiap kewajiban seseorang berkaitan dengan hak orang lain.
Kewajiban sempurna artinya kewajiban didasarkan atas keadialn, selalu terkait dengan hak orang lain. Sedangkan kewajiban tidak sempurna, tidak terkait dengan hak orang lain tetapi bisa didasarkan atas kemurahan hati atau niat berbuat baik.

M.     Menjadi Manusia yang Baik

Manusia adalah makhluk ciptaan tuhan yang paling sempurna yang di karuniai akal budi, kehendak, dan perasaan. Akal merupakan alat berfikir sebagai sumber ilmu dan tekhnologi. Perasaan adalah alat untuk menyatakan keindahan sebagai sumber seni dan budaya, sedangkan kehendak merupakan alat untuk menyatakan pilihan sehingga manusia memiliki kemampuan untuk menilai mana yang baik dan mana yang buruk. Manusia juga merupakan makhluk sosial yang selalu terikat dengan lingkungannya oleh karena itu manusia selalu berprilaku etis pada lingkungannya. Perilaku etis inilah yang mendasari munculnya etika sebagai sebuah ilmu yang mempelajari nilai-nilai yang baik dan buruk dalam kehidupan. Bahkan etika berkembang tidak sekedar sebagai ilmu tentang nilai baik dan buruk, melainkan sebagai studi tentang kehendak manusia, yaitu kehendak yang berhubungan dengan keputusan tentang yang benar dan yang salah dalam tindak perbuatannya.